DIMANA ALLAH?

1

Dikisahkan, Abdullah bin Dinar mengadakan safar bersama Umar bin Khattab, Amirul Mukminin menuju Mekah, lalu mereka berdua istirahat. Tiba-tiba datanglah seorang pengembala itu,”Hai pengembala juallah seekor kambing dari kambing-kambing itu!”, lalu pengembala itu berkata,” Sesungguhnya kambing ini bukan kambing saya”, Umar berkata,” Katakan saja kepada tuanmu bahwa kambing tersebut telah dimakan serigala”. Pengembala itu berkata,” Dimanakah Allah?” Lalu Umar menangis.

Tangisan Umar ini bukan tanpa sebab, namun buah dari keimanan yang menghujam di dalam hati pengembala tersebut. Umar bin Khattab meskipunseorang Amirul Mukmini, dia tidak berbuat semena-mena kepada rakyatnya. Tetapi, ketika beliau sedang menguji pengembala itu agar menjual kambing majikannya. Pengembala itu mengatakan dimana Allah? Kemudian Umar menangis. Maka keimanan yang bagaimana sehingga Umar bisa menangis?.

Sebuah pertanyaan di mana Allah merupakan pertanyaan yang sesuai fitrah. Memang kewajiban pertama bagi seorang manusia adalah mengenal Rabb-Nya. Melalui jalan mengenal Allah ini akan tahu siapa dirinya sebenanrnya, kemudian ia akan tahu siapa Allah dan bagaimana harus bersikap dihadapanNya.

Sering kita mendengar ungkapan Allah ada dimana-mana. Allah ada di masjid, di rumah, di kantor, di jalan dan berbagai tempat lainnya. Namun, ketika dipikirkan kembali kalau Allah dimana-mana berarti Allah itu banyak. Berarti ini bertentangan dengan konsep tauhid, Allah itu satu.

Ada juga pemahaman wihdatul wujud (Manunggaling kawulo gusti), Allah itu bisa menyatu dengan makhluknya. Ini berarti seperti pemahamannya Syaikh Siti Jenar, yang dianggap sesat oleh Wali Songo sehingga dihukum mati.

Jawaban pengembala tentang dimana Allah bukan berarti dia tidak tahu Allah, tetapi dia merasakan dirinya diawasi Allah dan dia tidak bisa lari daripadaNya. Karena kalau dia menjual kambing walaupun majikannya tidak tahu tetapi Allah Maha Tahu. Demikian juga Umar ketika mendapat peringatan dari pengembala itu maka sadarlah dia dan menangis karena Allah senantiasa bersama hamba-hamba Nya dan mengetahui seluruh perbuatannya.

Kebersamaan (ma’iyah) Allah bersama hambanya itu bukan menyatunya Allah dengan hamba. Akan tetapi merupakan ma’iyah umum bagi semua makhluknya. Maksudnya pengetahuan Allah terhadap amal perbuatan hamba-hambanya, gerakan yang dhahir dan batin. Tidak ada sesuatu pun dari mereka yang lepas dari pengawasan Allah dimanapun mereka berada. Hal ini berlaku untuk semua makhluk Allah.

Namun, ada ma’iyah khusus yang diperuntukkan hanya bagi orang-orang beriman. Maksudnya pengawasan dan pengetahuan Allah terhadap mereka, serta pertolongan, dukungan, dan penjagaan Allah untuk mereka dari tipu muslihat musuh-musuhnya.

Kemudian tentang keberadaan Allah itu ada di atas ‘arsy. Sebagaimana perkataan Imam Malik ; Istiwa‘ (bersemayam) itu sudah jelas, tentang bagaimana Allah beristiwa’ tidak ada yang tahu, namun mengimaninya wajib, sedangkan mempertanyakannya adalah bid’ah.

sumber : Majalah Annajah edisi 98

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s